Magnavox Odyssey, konsol game rumahan pertama dalam sejarah.
(sumber: V&A)
Pada sekitar tahun 1970-an, belum pernah terbayang sebelumnya sebuah televisi di ruang keluarga bisa menjadi sarana untuk bermain game. Biasanya, televisi hanya digunakan sebagai perangkat untuk menonton siaran berita atau hiburan saja, tidak ada interaksi dua arah yang terjadi karena penonton hanya duduk di depan televisi dan menikmati tayangan yang ditayangkan.
Suatu ketika, ada seseorang yang mempunyai ide untuk bisa memainkan suatu game melalui layar televisi. Terdengar sangat aneh dan konyol bagi banyak orang di masa tersebut, karena waktu itu teknologi komputer sendiri masih identik dengan sebuah perangkat besar yang hanya bisa digunakan oleh perusahaan, universitas, atau lembaga penelitian.
Inilah sejarah lahirnya sebuah konsol game rumahan pertama dalam sejarah yang bernama Magnavox Odyssey, sebuah produk revolusioner yang memberikan pengaruh besar terhadap industri game sampai saat ini.
Sejarah Magnavox Odyssesy
Konsol Magnavox Odyssey lahir dari orang yang bernama Ralph Baer (1922-2014), dinobatkan sebagai "Bapak Video Game". Ia lahir di Jerman yang kemudian pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya, karirnya di bidang elektronik dan teknologi militer membuat ia bisa memikirkan sebuah ide yang konyol bagi banyak orang di masa itu.
Pada sekitar tahun 1960-an, Ralph Baer bekerja di sebuah perusahaan kontraktor pertahanan Sanders Associates, dan di sela-sela pekerjaannya ia memikirkan idenya untuk mewujudkan konsep tentang sebuah perangkat elektronik yang bisa dihubungkan ke televisi dan penontonnya bisa berinteraksi dengan objek yang ada di layar televisi tersebut.
Kabar baiknya, idenya mendapatkan dukungan dari perusahaan tempat ia bekerja, Ralph Baer dan beberapa rekannya pun mulai mencoba mengembangkan berbagai prototipe. Butuh waktu beberapa tahun dengan banyak eksperimen untuk bisa menemukan hasil terbaik untuk dapat menampilkan objek yang bisa bergerak di layar televisi. Hasilnya, lahirlah prototipe yang bernama Brown Box, cikal bakal konsol video game rumahan pertama dalam sejarah.
Ralph Baer bersama prototipe Brown Box.
(sumber: Wamu)
Brown Box ini bukanlah sebuah produk jadi yang langsung dijual ke publik, melainkan hanya sebagai model demonstrasi yang digunakan Ralph Baer dan timnya untuk menunjukkan bagaimana konsep game interaktif di televisi dapat bekerja. Tampilannya begitu sederhana, namun alat ini memiliki beberapa fitur yang kemudian menjadi dasar bagi konsol game modern.
Prototipe ini dianggap sudah matang baginya, perusahaan Sanders Associates pun mulai mencari perusahaan yang tertarik untuk memproduksinya secara massal. Sejumlah perusahaan elektronik diajak untuk diperlihatkan demonstrasi Brown Box, tetapi tidak semuanya melihat potensi besar dari inovasi teknologi ini. Pada akhirnya, sebuah perusahaan bernama Magnavox menjadi perusahaan yang bersedia mengambil peluang tersebut.
Setelah mendapatkan lisensi untuk dapat memasarkan perangkat tersebut, Magnavox melakukan sejumlah penyempurnaan sebelum produk resmi diluncurkan ke pasar. Lahirlah sebuah nama Magnavox Odyssey yang kelak tercatat sebagai bagian penting dalam sepanjang sejarah industri video game.
Beginilah penampakan Brown Box, perangkat elektronik sederhana dengan 2 buah controller yang dilengkapi juga dengan controller berjenis tembakan.
(sumber: National Museum of American History)
Penampakan jeroan Brown Box atau bagian dalam perangkat tersebut, tampak sangat sederhana dengan kerumitan kabel yang masih bisa ditoleransi pada zaman tersebut.
(sumber: National Museum of American History)
Menghadapi Tantangan Pasar
Ketika Magnavox Odyssey diluncurkan pada tahun 1972, perusahaan menghadapi tantangan yang belum pernah dialami sebelumnya, karena istilah video game belum dikenal. Magnavox harus mencari cara untuk bisa memberikan informasi dan edukasi kepada pasar tentang produk apa yang sebenarnya mereka jual. Maka dari itu, di berbagai materi promosinya tidak pernah disebutkan sebagai konsol game, melainkan sebagai 'electronic game of the future', 'electronic game simulator', atau 'electronic playground'.
Magnavox berusaha untuk meyakinkan pasar bahwa perangkat yang mereka jual bukan sekadar mainan anak-anak, karena itu ada begitu banyak materi promosi mereka yang menampilkan orang dewasa beserta keluarganya bermain bersama di depan televisi. Materi ini juga ingin menunjukkan bahwa dengan harga $99.95, harga yang tergolong mahal pada saat itu, bukanlah sebagai mainan musiman anak-anak melainkan ingin memposisikan dirinya sebagai perangkat hiburan untuk keluarga yang dapat dimainkan kapan saja.
(sumber: Video Game History Foundation)
(sumber: Video Game History Foundation)
(sumber: Video Game History Foundation)
(sumber: Video Game History Foundation)
Magnavox mengiklankan produknya melalui berbagai macam media, mulai dari brosur, koran, radio, hingga televisi. Bahkan perusahaan sempat menggunakan penyanyi Frank Sinatra, terkenal di zaman tersebut, untuk meningkatkan daya tarik pasar.
Tapi, masalah lain kembali hadir, Magnavox terkendala di distribusi. Strategi yang digunakan adalah mereka menjualnya hanya melalui dealer resmi Magnavox, tidak melalui berbagai toko elektronik atau department store yang jangkauan pasarnya lebih luas. Akibatnya, banyak calon konsumen yang tidak pernah melihat produk tersebut secara langsung, dan muncul asumsi bahwa konsol tersebut hanya bisa digunakan di televisi merk Magnavox saja. Padahal, sebenarnya konsol tersebut dapat digunakan di hampir semua televisi waktu itu.
Ada lagi masalah kesalahpahaman lainnya, di mana banyak orang yang merasa ragu atau asing dengan konsep menghubungkan perangkat eksternal ke televisi, lalu ada juga yang mempertanyakan tentang manfaat game elektronik di rumah. Tantangan-tantangan inilah yang membuat penjualan awal tidak setinggi yang diharapkan, karena selain perusahaan harus melakukan promosi tapi mereka juga harus bisa mengedukasi.
Tercatat ada sekitar 350.000 unit yang terjual dari awal hinga produksinya dihentikan pada tahun 1975, dan ini bukanlah angka yang kecil namun sebuah kesuksesan akan pembuktian bahwa pasar untuk video game rumahan nyata adanya. Jangan membandingkan angka tersebut dengan penjualan konsol game modern, karena tantangannya berbeda pada zaman sekarang dan zaman dulu.
Beberapa tahun kemudian, gagasan yang diperkenalkan Odyssey ini berkembang menjadi sebuah industri video game yang bernilai miliaran dolar yang dikenal saat ini.
(sumber: Video Game History Foundation)
(sumber: Video Game History Foundation)
Cara Kerja Magnavox Odyssey
Konsol Magnavox Odyssey hanya memiliki teknologi sederhana, jika dibandingkan dengan konsol modern. Konsol ini bahkan tidak menggunakan mikroporesesor maupun memori, juga tidak menggunakan sistem operasi, seluruh sistemnya dibangun menggunakan rangkaian elektronik dasar (transistor, dioda, dll.) yang dirancang untuk menghasilkan sinyal video membentuk objek sederhana di layar.
Odyssey dapat dimainkan dengan kartu gamenya, di mana fungsi kartu itu sendiri hanya untuk mengubah jalur sirkuit di dalam konsol yang mirip seperti sakelar yang mampu menghubungkan atau memutuskan rangkaian tertentu. Ketika kartu tersebut dimasukkan ke dalam konsol, perilaku objek di layar ikut berubah sesuai dengan konfigurasi elektroniknya.
Keterbatasan kemampuan teknologi ini menghasilkan solusi yang unik, di mana Magnavox membuat lembaran plastik transparan yang ditempelkan di televisi. Lembaran plastik ini hanya berfungsi sebagai background atau visual pendukung sesuai dengan tema game yang ingin dimainkan. Misalnya, gambar lapangan tenis, jalur ski, rumah berhantu, dll. sehingga titik-titik putih terlihat seperti bagian dari gamenya.
Sisanya, imajinasi pemainlah yang berperan penting untuk menikmati gamenya. Ada banyak game yang menggunakan kartu, dadu, uang mainan, chip poker, hingga lembaran skor yang disertakan dalam paket penjualan. Konsol tidak dapat menghasilkan suara, menghitung skor, menentukan pemenang secara otomatis, pokoknya tidak ada proses komputasi sehingga semuanya harus dilakukan sendiri oleh pemainnya dengan mengikuti lembaran atau buku petunjuk di dalamnya. Bisa dikatakan bahwa Magnavox Odyssey berada di antara video game dan board game traidisional.
Anda bisa melihat bagaimana orang bermain dengan Magnavox Odyssey di video YouTube ini.
(sumber: Odyssey Now)
(sumber: Smithsonian Magazine)
(sumber: Alexander Smith Wordpress)
Terlihat sangat primitf bukan? Itulah letak kreativitas di antara keterbatasan, hal ini yang membuat game semakin menarik untuk dibuat dan dimainkan. Berawal dari ide seherana yang kemudian menjadi fondasi bagi seluruh industri konsol game yang berkembang selama lebih dari setengah abad berikutnya.
Magnavox Odyssey, Repairable
Sebenarnya saya tidak menemukan artikel lengkap yang benar-benar membahas layanan purna jual Magnavox Odyssey, tapi dapat saya simpulkan dari begitu banyak blog maupun obrolan di media sosial kalau konsol ini memiliki service center atau dapat diperbaiki sendiri di masa itu.
Meskipun konsol ini adalah produk inovasi baru, ternyata perusahaan bisa melakukan reparasi apabila ada kerusakan di tempat mereka membelinya, yaitu dealer toko resmi sekaligus juga menjadi tempat demonstrasi produk. Teknisi juga dibekali panduan seperti menyediakan service manual yang berisi skema rangkaian elektronik lengkap, prosedur pemeriksaan, hingga langkah-langkah perbaikan. Dokumentasi ini masih dimanfaatkan oleh para kolektor hingga sekarang untuk merestorasi Odyssey yang usianya telah melampaui setengah abad.
Dari sudut pandang para teknisi, Magnavox Odyssey tergolong mudah untuk diperbaiki karena jeroannya yang tidak terlalu rumit seperti konsol zaman sekarang. Komponen-komponen di dalamnya sangat mudah ditemukan di masa itu karena menggunakan komponen standar yang umum ditemukan di televisi maupun radio. Jika ada sejumlah komponen yang rusak, teknisi dapat mengganti bagian tersebut tanpa harus mengganti keseluruhan.
Begitu pula dengan game cardnya, hampir tidak pernah mengalami kerusakan serius karena tidak berisi chip atau data digital, karena fungsi cardnya hanya berfungsi sebagai penghubung rankaian elektronik di dalam konsol. Kerusakan yang paling umum terjadi terbatas pada konektor yang kotor atau jalur sirkuit yang putus, namun yang paling sering dipermasalahkan oleh konsumen adalah overlay plasti yang ditempelkan di televisi. Plastik ini terbuat dari lembaran tipis yang mudah terlipat, sobek, atau bahkan hilang apabila pemakaiannya tidak biasa. Namun, konsumen tetap dapat membeli satu set game lengkap di toko, bukan satu set konsol yang berisi gamenya. Jadi, yang paling sulit dipertahankan hingga sekarang bukanlah konsolnya, melainkan aksesoris pendukungnya.
(sumber: ElektroTanya)
Pengaruh Magnavox Odyssey terhadap Industri Game
Kontribusi terbesar Magnavox Odyssey bukanlah terletak pada jumlah penjualannya, melainkan pada pengaruh yang ditinggalkannya. Odyssey membuktikan bahwa video game dapat menjadi produk hiburan rumahan yang layak untuk dipasarkan.
Salah satu dampak paling terkenal adalah lahirnya game Pong. Setelah melihat demonstrasi dari Odyssey, sejumlah pelaku industri mulai tertarik mengembangkan konsep game serupa. Tidak butuh waktu lama, pasar video game mulai berkembang dengan kehadiran dari berbagai pemain baru atau perusahaan baru yang melihat peluang besar di bidang ini.
Sampai saat ini Odyssey masih dikenang sebagai titik awal sejarah konsol game rumahan, tanpa teknologi canggih, tanpa grafis yang memukau, tapi perannya dalam membuka jalan bagi industri video game tidaklah dapat dilupakan. Begitu pula dengan nama dan sosok Ralph Baer yang juga terus dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di sejarah video game. Berkat beliau, konsep bermain game di rumah yang dulu terdengar mustahil akhirnya menjadi kenyataan.
Saat ini, konsol Magnavox Odyssey terus diburu oleh para kolektor dan harganya semakin naik dari tahun ke tahun. Harga tertinggi tentu konsol yang masih berfungsi, memiliki penampilan yang masih bagus, hingga kelengkapan yang masih utuh.













Comments
Post a Comment